Hotline : +62-21-4759234; +62-21-47881870; +62-21-22861770

PT. Amarta Multi Sinergy
Investment & Trade Consultant

Dengan bertambahnya populasi penduduk dan laju perekonomian di Indonesia, maka nilai konsumsi energi pun semakin besar. Di Indonesia konsumsi energi masih di dominasi oleh energi fosil. Tingginya konsumsi energi ini mengakibatkan besarnya pengeluaran sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan batubara dibandingkan dengan penemuan cadangan baru, sehingga diperkirakan dalam waktu tidak lama lagi cadangan energi fosil di Indonesia akan habis dan Indonesia cenderung akan tergantung pada energi impor.


Dengan profil penyediaan energi yang masih di dominasi oleh energi fosil, secara otomatis peningkatan permintaan energi akan meningkatkan bebas subsidi energi karena sebagian dari padanya ada yang masih di subsudi. Perkembangan subsidi energi secara umum mengalami peningkatan setiap tahunnya. Menyadari hal ini, pemerintah bertekad menerapkan kebijakan harga energi yang mempertimbangkan harga keekonomian dan daya beli masyarakat. Secara bertahap subsidi harga energi akan terus dikurangi dengan demikian anggaran subsidi dapat di alihkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Subsidi harga energi juga kurang mencerminkan keadilan energi bagi masyarakat. Penerima subsidi harga energi adalah mereka yang memiliki akses energi modern baik bahan bakan minyak (BBM) maupun listrik. Padahal masih banyak masyarakat di daerah terpencil belum mendapatkan akses energi modern tersebut. Penyediaan akses energi bagi masyarakat terpencil tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, oleh sebab itu lebih baik jika subsidi energi dialihkan untuk penyediaan akses energi modern bagi masyarakat di daerah terpencil.

Penghematan energi hanya akan efektif jika nilai penghematan yang diperoleh cukup besar. Namun dengan struktur harga subsidi saat ini, penghematan yang dilakukan dinilai tidak cukup berarti, sehingga terkesan penghematan energi belum dianggap sebagai langkah penting.

Menimbang bahwa cadangan sumber daya energi tak terbarukan yang terbatas, maka perlu adanya kegiatan diversifikasi atau penganekaragaman sumber daya energi, agar ketersediaan energi terjamin. Diversifikasi energi dilakukan melalui upaya pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), seperti : Panas Bumi, Energi Air, Energi Surya, Energi Angin, Bio Energi, dan Energi Nuklir.


Dengan memanfaatkan EBT, ketergantungan akan penggunaan bahan bakar fosil di dalam sistem penyediaan energi nasional dapat menurun. Selain itu, isu pemanasan global yang dikaitkan dengan penggunaan bahan bakar fosil merupakan satu alasan untuk menurunkan tingkat konsumsi bahan bakar fosil.


Bagaimanapun, ketersediaan energi yang berkelanjutan memerlukan upaya diversifikasi, konservasi dan intensifikasi yang konsisten dan terarah. Upaya-upaya ini memerlukan dana investasi yang sangat besar, teknologi yang menunjang dan sumber daya masnusia yang terampil dan berpengetahuan.


Dalam konteks energi baru terbarukan, pengembangan energi lokal setempat penting diimbangi dengan berbagai pihak pengembangan kapasitas industri dalam negeri dengan pengembangan pola kemitraan antara pemerintah dan swasta, serta antara sumber daya dalam negeri dengan dana, teknologi dan keahlian dari luar negeri.


Agar pengembangan energi baru terbarukan ini berjalan dengan baik dan seimbang, maka perlu ditunjang dengan kelengkapan peraturan yang konsisten dan tegas dalam pelaksanaannya agar memberikan kepastian hukum.

Berdasarkan UU No. 30 Tahun 2007 tentang "Energi", yang dimaksud Energi Baru adalah energi yang berasal dari sumber energi baru, dan yang dimaksud dengan energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi terbarukan.

Sumber energi baru, adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain : Nuklir, Hidrogen, Gas Metana Batu Bara (Coal Bed Methane), Batu Bara tercairkan (Liqufied Coal), gas alam yang berasal dari serpihan bebatuan (Shale Gas) dan Batu Bara Tergaskan (Gasified Coal).


Sumber energi terbarukan, adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain : Panas Bumi, Angin, Bio Energi, Sinar Matahari, Aliran dan Terjunan Air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.


PANAS BUMI

Dasar hukum yang mengatur tentang PANAS BUMI :

  • Undang-Undang No. 21 Tahun 2014 Tentang Panas Bumi
  • Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2007 Tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi, sebagaimana telah diubah dalam PP No. 70 Tahun 2010


Panas Bumi merupakan sumber daya alam terbarukan dan merupakan kekayaan alam Indonesia yang mempunyai peranan penting untuk menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan kesejahteraan rakyat.


Panas Bumi adalah energi ramah lingkungan yang potensinya sangat besar dan pemanfataannya belum optimal, sehingga perlu didorong untuk ditingkatkan secara terencana dan terintegrasi guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Persyaratan Permohonan SKT Panas Bumi :


 Surat Permohonan Baru/Perubahan/Perpanjangan 
 Formulir Permohonan 
 Surat Pernyataan Kewajiban Perusahaan
 Surat Pernyataan Tenaga Ahli 
 Surat Pernyataan Kepemilikan Peralatan Utama 
 Akta Pendirian Perusahaan dan/atau Akta Perubahan Terakhir 
 Surat Keterangan Domisili 
 Tanda Daftar Perusahaan 
 Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak 
 Salinan Surat Izin Usaha Perdagangan 
 Salinan Izin Usaha Tetap dari BKPM 
 Salinan Data Tenaga Ahli (Sertifikat Keahlian, Sertifikat Pendidikan, KTP dan/atau Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA), Daftar Riwayat Hidup)  Company Profile 
 Laporan keuangan terakhir 
 Soft File Dokumen Permohonan SKT Panas Bumi